
PT Mitra Prodin kembali menunjukkan komitmen nyata dalam aksi kemanusiaan melalui penyaluran bantuan kaki palsu bagi seorang lansia penyandang disabilitas asal Gianyar, I Made Maruta (84). Aksi sosial yang menyentuh hati ini merupakan bagian dari program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan yang dilaksanakan pada Rabu, 16 September 2026. Dalam pelaksanaannya, Mitra Prodin bersinergi dengan Yayasan Kaki Kita Senusantara (YKKS), sebuah lembaga yang berada di bawah naungan Bhakti Rahayu Group, untuk memastikan bantuan tersebut tepat sasaran dan memberikan dampak fungsional yang optimal bagi penerima manfaat.
Kisah I Made Maruta menjadi pengingat betapa krusialnya aksesibilitas bagi penyandang disabilitas. Pria lansia ini diketahui harus menjalani operasi amputasi pada tahun 2020 akibat komplikasi penyakit diabetes yang dideritanya. Sejak saat itu, mobilitas beliau menjadi sangat terbatas. Selama bertahun-tahun, kakek tersebut terpaksa bergantung sepenuhnya pada kursi roda untuk berpindah tempat, yang secara otomatis membatasi interaksi sosial dan kemandiriannya dalam beraktivitas sehari-hari. Kehadiran kaki palsu yang disumbangkan oleh Mitra Prodin diharapkan menjadi "kaki baru" yang mampu mengembalikan semangat dan kebebasan bergerak bagi Pak Maruta.
Chief Operating Officer (COO) Mitra Prodin, Erwin Johan, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar formalitas perusahaan, melainkan wujud tanggung jawab moral terhadap lingkungan sekitar. "Di usia ke-25 tahun ini, Mitra Prodin ingin menegaskan bahwa kehadiran kami bukan hanya untuk berbisnis semata, melainkan harus memberikan dampak nyata dan manfaat luas bagi masyarakat Bali," ujar Erwin. Menurutnya, perusahaan harus mampu menjadi pilar bagi mereka yang membutuhkan, terutama bagi warga lokal yang mengalami keterbatasan fisik.
Lebih jauh, Erwin menjelaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan sudah tertanam dalam DNA Mitra Prodin sejak awal berdiri. Perusahaan ini memiliki misi mulia dalam memberdayakan perempuan Bali, khususnya bagi mereka lulusan SMP atau SMA yang memiliki keterbatasan akses terhadap lapangan pekerjaan formal. Dengan memberikan kesempatan kerja yang layak dan lingkungan kerja yang mendukung, Mitra Prodin telah membantu ribuan perempuan lokal untuk mandiri secara finansial. Semangat pemberdayaan inilah yang kemudian diperluas melalui program-program CSR seperti pemberian alat bantu kesehatan bagi penyandang disabilitas.
Sinergi dengan Yayasan Kaki Kita Senusantara (YKKS) menjadi poin krusial dalam keberhasilan program ini. YKKS bukan sekadar penyedia alat, melainkan mitra strategis yang memiliki keahlian teknis dalam pembuatan kaki palsu yang presisi sesuai dengan anatomi penerima. Proses pendampingan pasca-pemberian juga menjadi perhatian, di mana pihak yayasan terus memantau proses adaptasi Pak Maruta dalam menggunakan alat bantu tersebut. Kolaborasi antara sektor industri dan lembaga sosial seperti ini menjadi model ideal dalam penanganan masalah sosial di Bali.
Amputasi akibat diabetes, seperti yang dialami Pak Maruta, merupakan tantangan kesehatan yang cukup sering dijumpai di masyarakat. Tanpa adanya dukungan alat bantu yang memadai, penyandang disabilitas sering kali mengalami penurunan kualitas hidup yang drastis, baik dari sisi fisik maupun kesehatan mental. Oleh karena itu, langkah yang diambil oleh Mitra Prodin memberikan harapan baru. Dengan kaki palsu yang tepat, diharapkan Pak Maruta dapat kembali melakukan aktivitas ringan secara mandiri, yang pada gilirannya akan meningkatkan kepercayaan diri dan kualitas hidupnya di masa senja.
Program CSR Mitra Prodin ini juga mencerminkan semangat "Bhinneka Tunggal Ika" dalam konteks gotong royong di Bali. Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi, perusahaan swasta dituntut untuk tidak meninggalkan mereka yang tertinggal. Langkah konkret seperti memberikan bantuan kaki palsu adalah bentuk nyata investasi sosial yang tidak hanya diukur dari angka, tetapi dari senyuman dan kemudahan hidup yang diterima oleh individu seperti Pak Maruta.

Bagi Mitra Prodin, usia 25 tahun adalah tonggak sejarah yang harus dirayakan dengan aksi nyata. Perusahaan yang berbasis di Bali ini menyadari bahwa keberlanjutan bisnis mereka sangat bergantung pada dukungan masyarakat lokal. Oleh sebab itu, ekosistem keberlanjutan yang dibangun tidak hanya berfokus pada efisiensi produksi, tetapi juga pada kesejahteraan sosial. Pemberdayaan perempuan melalui lapangan kerja dan bantuan kemanusiaan bagi penyandang disabilitas adalah dua sisi dari satu koin yang sama, yakni upaya membangun masyarakat yang lebih inklusif dan sejahtera.
Yayasan Kaki Kita Senusantara (YKKS) sendiri menyatakan apresiasinya terhadap Mitra Prodin. Sebagai bagian dari Bhakti Rahayu Group, YKKS memiliki visi untuk menjangkau sebanyak mungkin penyandang disabilitas yang kurang mampu agar mendapatkan akses ke alat bantu gerak. Kerjasama dengan perusahaan swasta seperti Mitra Prodin sangat membantu yayasan dalam memperluas jangkauan operasional. Kebutuhan akan kaki palsu yang berkualitas sering kali terbentur oleh biaya, sehingga bantuan dari sektor swasta menjadi jembatan yang sangat dibutuhkan.
Ke depan, Mitra Prodin berkomitmen untuk terus melanjutkan program-program kepedulian sosialnya. Tidak hanya berhenti pada bantuan fisik, perusahaan berencana untuk terus mengeksplorasi bentuk-bentuk dukungan lain yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di Gianyar dan sekitarnya. Fokus pada isu pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi akan tetap menjadi pilar utama dalam agenda CSR perusahaan.
Kisah I Made Maruta adalah bukti bahwa kepedulian sekecil apa pun dapat mengubah hidup seseorang secara drastis. Dengan adanya kaki palsu tersebut, Pak Maruta tidak lagi hanya terpaku pada kursi roda. Ia kini memiliki kesempatan untuk melangkah kembali, berinteraksi dengan lingkungan sekitar, dan menjalani hari-hari dengan martabat yang lebih baik. Mitra Prodin telah membuktikan bahwa perusahaan bukan sekadar entitas ekonomi, melainkan bagian integral dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab besar untuk saling menjaga dan menguatkan.
Aksi ini diharapkan dapat memicu semangat bagi perusahaan-perusahaan lain di Bali untuk melakukan hal serupa. Sinergi antara sektor swasta, yayasan sosial, dan masyarakat adalah kunci utama dalam menciptakan Bali yang lebih inklusif bagi seluruh warganya, tanpa terkecuali bagi para lansia dan penyandang disabilitas. Melalui semangat gotong royong dan kepedulian yang berkelanjutan, masa depan yang lebih cerah bagi mereka yang membutuhkan bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan.
Dengan berakhirnya seremoni penyerahan bantuan tersebut, harapan besar tersemat bagi Pak Maruta agar proses rehabilitasinya berjalan lancar. Dukungan keluarga, pendampingan dari YKKS, dan perhatian dari Mitra Prodin menjadi modal utama bagi beliau untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya. Bagi Mitra Prodin, momen ini adalah pengingat untuk terus berjalan di jalur yang benar, membawa manfaat, dan menjadi inspirasi bagi banyak orang bahwa kesuksesan sejati adalah ketika keberadaan kita mampu membuat orang lain lebih bahagia dan berdaya.
Seiring berjalannya waktu, program ini diharapkan menjadi percontohan bagaimana integrasi antara tanggung jawab sosial perusahaan dengan kebutuhan dasar masyarakat dapat berjalan harmonis. Bali, dengan segala kearifan lokalnya, tentu akan semakin maju jika setiap elemen di dalamnya—termasuk sektor swasta—memiliki kepekaan yang tinggi terhadap dinamika sosial di sekitarnya. Mitra Prodin telah melangkah, dan langkah ini adalah awal dari banyak kontribusi lainnya yang akan terus mengalir untuk masyarakat Gianyar dan Bali secara luas.
Sebagai penutup, apa yang dilakukan oleh Mitra Prodin dan YKKS adalah cerminan dari semangat kemanusiaan yang universal. Di dunia yang terkadang bergerak terlalu cepat, aksi-aksi seperti inilah yang menjaga nilai-nilai kebersamaan tetap hidup. Kaki palsu untuk Pak Maruta adalah simbol harapan, bukti bahwa dengan kepedulian dan kerjasama, setiap hambatan fisik dapat diatasi dengan semangat kemanusiaan yang tak pernah padam. Semoga kedepannya, semakin banyak pihak yang tergerak untuk ikut serta dalam gerakan-gerakan sosial serupa, menjadikan Bali sebagai tempat yang lebih ramah dan peduli bagi semua orang.

Leave a Reply